بسم الله الرحمن الرحيم

Pertama:
Perlu diketahui bahwa kayu siwak tidak terpengaruh oleh bau ludah, meskipun kita sedang berpuasa.
Sebagai perbandingan cobalah di sore hari saat puasa: jilat sedikit jari lalu cium aromanya, kemudian bandingkan dengan kayu siwak. Coba kayu siwaknya bukan hanya dijilat, tapi coba dikulum lalu cium, tidak ada bau ludah sama sekali, aromanya tetap segar khas kayu siwak.

Kedua:
Kondisikan mulut dan gigi selalu bersih selama 24 jam. Untuk itu kita tetap gosok gigi dengan sikat gigi.
Namun ada waktu-waktu tertentu di mana sikat gigi tidak bisa digunakan, misalnya ketika hendak masuk rumah atau sebelum shalat. Siwak bisa digunakan kapan saja tanpa batasan.

Ketiga:
Biasakan menjadikan siwak sebagai sunnah harian.
Misalnya setiap hendak shalat, gunakan siwak. Karena gigi kita sudah bersih (sebagaimana poin no. 2 di atas), tetaplah bersiwak untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, sekaligus menjaga napas tetap segar.

Keempat:
Letakkan siwak di wadah yang bersih, seperti plastik atau holder khusus. Hindari menyimpannya langsung di dalam kantong baju tanpa pelindung.
Pastikan wadah tersebut rutin dibersihkan atau diganti agar siwak tetap higienis dan selalu siap digunakan kapan saja.

Kelima:
Jaga Kebersihan dan Kualitas Siwak
Cucilah siwak setiap selesai digunakan agar tetap bersih dan higienis. Jika aroma siwak sudah berubah atau tidak lagi segar, sebaiknya segera diganti dengan yang baru.

Sikat gigi & Siwak: Harmoni sederhana untuk meraih ridha Tuhan
Barakallahu Fiiikum

siwak.top

Categories: Uncategorized